Sabtu, 11 Desember 2010

10 Cara Menyelamatkan Lingkungan Bawah Laut

10 Cara Menyelamatkan Lingkungan Bawah Laut

1. Menyelam dengan hati-hati di ekosistem akuatik yang rentan, seperti    
     terumbu karang. 
          Meski awalnya, mereka nampak seperti karang atau tumbuhan, banyak organisme akuatik yang merupakan makhluk rentan yang dapat rusak atau terancam oleh benturan tangki, lutut atau kamera, sapuan fin atau bahkan sentuhan tangan. Juga penting diketahui bahwa beberapa organisme akuatik, seperti koral, tumbuh teramat sangat lambat. Dengan mematahkan bahkan hanya sepotong kecil saja, anda dapat menghancurkan pertumbuhan selama beberapa puluh tahun. Dengan berhati-hati dalam menyelam, anda dapat mencegah devastasi dan kehancuran jangka panjang banyak lokasi penyelaman.

2. Waspada dalam menempatkan tubuh dan peralatan anda saat menyelam
          Banyak kerusakan lingkungan anda lakukan tanpa anda sadari. Jaga pengukur tekanan tangki dan octopuss anda agar tidak terseret kemana-mana dan menghancurkan terumbu karang. Dengan mengontrol buoyancy anda dan menjaga agar tidak menyentuh koral atau organisme rentan lainnya dengan tubuh, peralatan selam atau kamera anda, berarti anda sudah mengambil bagian dalam mencegah kerusakan kehidupan akuatik.
Menyelamlah dengan hati-hati di ekosistem terumbu karang, jangan sampai tubuh atau peralatan anda merusak karang, pertajam skill buoyancy anda. Foto oleh : Farish.

3. Pertahankan ketajaman kemampuan menyelam anda dengan pendidikan   
     lanjutan
          Jika anda lama tidak pernah menyelam lagi, skill anda (khususnya kontrol buoyancy) perlu diasah. Sebelum terjun ke air, berlatihlah dulu dengan seorang instruktur di kolam atau lingkungan lain yang tak bisa rusak akibat sedikit benturan dan goresan anda. Lebih baik lagi, ambillah kursus selam lanjutan.

4. Pertimbangkan dampak interaksi anda terhadap kehidupan akuatik
          Sebagaimana setiap penyelam akan segera belajar, bahwa teramat sedikit bentuk-bentuk kehidupan akuatik merupakan suatu ancaman bagi kita. Faktanya, beberapa makhluk bahkan nampak bersahabat dan ingin tahu dengan kehadiran kita. Sebagaimana kita menjadi lebih terbiasa dan lebih ingin tahu, kita bahkan merasa tanpa beban, menyentuh, menangani, memberi makan dan bahkan mengendarai kehidupan akuatik tertentu. Bagaimanapun, tindakan-tindakan tersebut dapat menyebabkan stress pada hewan, mengganggu kebiasaan makan dan kawinnya, memperkenalkan bahan-bahan makanan yang tidak sehat bagi spesies atau bahkan memicu perilaku agresif pada spesies yang dalam kondisi normal sebenarnya tidak agresif.
Hindari memegang, mengejar, mengendarai, mempermainkan, memberi makan hewan akuatik karena akan membuat mereka stres, atau memicu perilaku agresif mereka. 
Foto: Koleksi teman yg dirahasiakan identitasnya (inisial: Gek Mtl)

5. Pahami dan hormati kehidupan bawah laut
          Lewat adaptasi dengan lingkungan akuatik, kehidupan bahwa laut seringkali tampak amat berbeda dengan kehidupan yang biasa kita lihat di daratan. Banyak makhluk yang hanya nampak seperti tumbuhan. Menggunakan makhluk tersebut sebagai "mainan" atau makanan bagi hewan-hewan lain dapat meninggalkan jejak kehancuran yang dapat mengubah ekosistem dan merampok kesenangan penyelam lain dalam mengamati atau memotret makhluk-makhluk ini.

6. Lawan keinginan untuk mengoleksi cindera mata

          Lokasi-lokasi penyelaman yang seringkali dikunjungi dapat kehabisan sumber daya alam dalam waktu singkat. Mengoleksi spesimen, koral dan kerang di area-area ini dapat merusak daya tarik dan keindahannya. Jika anda ingin membawa kenang-kenangan dari penyelaman anda untuk ditunjukkan kepada teman-teman dan keluarga di rumah, pergunakan fotografi bawah laut.


7. Jika anda berburu dan/atau melakukan gather game, taati semua hukum 
     ikan dan perburuan
          Anda mungkin berada dalam grup penyelam yang mencari kesenangan dengan mencari makanan dari kehidupan akuatik. Amatlah vital bagi anda untuk memiliki ijin dan mengerti benar dengan aturan dan hukum perburuan ikan setempat. Hukum-hukum setempat telah dirancang untuk menjamin reproduksi dan kehidupan hewan-hewan ini. Ambillah hanya makhluk-makhluk yang memang akan anda makan. Jangan membunuh apapun hanya untuk bertujuan membunuh. Hormati hak-hak para penyelam lain yang tidak berburu. Hindari menembak ikan di area-area yang para penyelam lain gunakan untuk mengamati dan mengambil foto bawah air. Sebagai pemburu bawah air, pahami efek anda terhadap lingkungan.
Contoh2 ikan yang termasuk endangered species (Napoleon Wrasse & Grouper/Kerapu), tapi sering diburu/ditangkap untuk dijadikan menu Chinese Restaurant yang harganya ratusan ribu. Hindari memesan ikan2 ini di rumah makan. Foto oleh: M. Farish.

Napoleon Wrasse, sebelum & sesudah menjadi menu. Sumber foto: anton.blogs.com/awesome.

8. Laporkan gangguan atau kerusakan lingkungan di lokasi penyelaman anda
          Sebagai seorang penyelam, anda berada dalam posisi yang unik untuk memonitor kesehatan perairan, danau dan pantai setempat. Jika anda mengamati suatu pengurangan suatu kehidupan akuatik yang tidak biasa, luka-luka yang parah pada hewan-hewan akuatik atau menyadari substansi-substansi atau obyek aneh pada air, laporkan kepada pemerintah setempat, seperti BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam).

9. Jadilah teladan bagi para penyelam lain saat interaksi penyelaman dan 
    non-penyelaman dengan lingkungan
          Sebagai seorang penyelam, anda menyadari bahwa bila seseorang membuang kantong plastik atau kotoran lain keluar kapal adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Anda melihat akibat dari kelalaian-kelalaian tersebut. Berilah contoh yang baik dalam interaksi anda sendiri terhadap lingkungan, dan orang-orang lain - penyelam maupun bukan - akan meneladaninya.
Aksi bersih underwater clean-up di Nusa Dua. Dari mana asal datangnya sampah-sampah plastik ini? Orang-orang membuangnya di laut? Bukan. Mayoritas sampah-sampah plastik ini merupakan 'kebaikan hati' warga Denpasar yang masih gemar membuang sampah-sampahnya di sungai-sungai mereka. 
Foto oleh : Farish.

10. Libatkan diri dengan aktivitas-aktivitas & isyu-isyu lingkungan setempat
          Anda mungkin merasa bahwa anda tidak dapat menyelamatkan seisi dunia, tapi anda dapat membawa dampak yang besar di sudut planet ini di mana anda tinggal dan menyelam. Terdapat banyak kesempatan untuk memperlihatkan dukungan anda terhadap suatu lingkungan akuatik yang bersih, termasuk aksi bersih pantai setempat dan menghadiri dengar pendapat publik tentang hal-hal yang berdampak pada area pantai dan sumber-sumber air setempat. Kenali semua sisi lingkungan akuatik yang sedang diisyukan para wakil rakyat dan masukkan opini anda di kotak saran DPRD. Oya, jangan lupa, jadilah anggota Mapala "Wanaprastha Dharma" Universitas Udayana, divisi diving tentunya.....:-)
Foto oleh: Farish.

" Take nothing but pictures, leave nothing but bubbles, kill nothing but time"


(Diterjemahkan secara bebas dari Ten Ways a Diver Can Protect the Aquatic Realm. Produced by PADI for Project A.W.A.R.E. oleh Farish, WD-516).



Kamis, 11 November 2010

MAPALA "WANAPRASTHA DHARMA" UNIVERSITAS UDAYANA

"Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan.
Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan.
Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat, kalau ia mengenal akan obyeknya.
Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat.
Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat.
Karena itulah kami naik gunung."
( Soe Hok Gie, M-007-UI )

"Now I see the secret of making the best person: 
it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth."
( Walt Whitman )

          Mapala (abbr. Mahasiswa Pecinta Alam or students that care about the nature) Wanaprastha Dharma or "WD" (from Sanskrit Language, means a forest or site where inside it the cycle of life is carried out based on goodness or Dharma) is a unit of student's activity at Udayana University, Bali. She was born on 21-st April 1981 that pioneered by a few Engineering Faculty students. The purpose this organization was formed is to educate a responsible individual with strong physic and mentality to enjoy outdoor activities and take parts on nature conservation, their playground.

           So, Mapala "WD" active on outdoor sport (with high responsibility to conserve the nature), encourage the other students to more care about the environment and voluntary at National Search & Rescue Bureau. They've provided with knowledge and skills, which they get from their gradual education & training to increase their personal quality, soft skills as addition to academic hard skills which they get everyday from their campuss.
         
Mapala "WD" Unud while onboard at KRI Surabaya 591 (Indonesian Navy LPD), in order to Sail Bunaken 2009. Photo by: Agus Isnaini. 

          First, the recruit member must be an Udayana University student who passes several selection including physical, psychological, health and motivation test to undergo basic training (ATC - Adventure Training Camp) where they accept all the basic knowledge and skills of outdoor activities, and physical training. After pass the basic training, they must undergo several months mentoring time for knowledge development,  plan, propose and implement their own small-adventure trip, before graduate as a junior member.
          Second, after they become a Junior Member, they may continue their education to advanced level which they can broaden their knowledge and choose their specialization to be a Core Member (Rock Climbing, Jungle Trekking, Caving, Diving, Whitewater Rafting and Conservation) with make a specialized small-expedition.
          The third is Search & Rescue training. Only Core Member may undergo this training to become a SAR member. Mapala "WD" has 5 outdoor divisions (RC, Jungle-Trekking, Caving, Diving, Whitewater Rafting) , 1 conservation division and 1 SAR unit. 


RC & Jungle-Trekking Division
          At first, Mountaineering Division Mapala "WD" became umbrella for two activities namely Climbing Mountain and Rock Climbing. However, due to the demands of professionalism and the characteristics of mountain terrain in Indonesia last two sub-divisions are divided into two distinct divisions, the Rock Climbing Division and the Jungle-Trekking Division.    
Climbing activities by Mapala "WD". Photo: "WD"s archives.

          Indonesia is blessed with God's mountainous region of the tip of Sumatra in the west to the eastern region known as the Ring of Fire (such as Kerinci, Slamet, Sindoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, Arjuno-Welirang, Semeru, Argopuro, Agung, Rinjani, Tambora, etc.) is the domain of their adventure. Then a lot of Karst cliffs and the land Andesite becoming Mapala "WD" climber's field like the cliffs in Java, Bali, South Sulawesi and Flores.
          For them, students of Udayana University who thirst of challenges, it is not too difficult to join this division. Simply Junior Members of Mapala "WD" who have passed ATC and mentoring, not afraid of heights, have fortitude, and has high ability to work in teams.

Caving Division
          Caving Division Mapala "WD" curriculum has a purpose for it's students to be a caver who is able to plan and carry out cave exploration activities properly and securely, able to anticipate and cope with problems, potential accidents, and accidents in search of the cave and get a comprehensive experience of the ins & outs of the cave exploration world. The materials provided include: surveys, exploration planning, management ropes, rigging, Single Rope Technique, hauling, traversing, Tyrolean, potholing, z-drag, cave photography, mapping and others.
          Mapala "WD"s Bali Celebes Caving Expedition, South Sulawesi, 1997. 
Photo: Mapala "WD"s archives.

          For those interested in the condition is not too difficult. Simply Junior Members of Mapala "WD" who have passed ATC and mentoring. Do not have claustrophobia (phobia of enclosed spaces) and have an interest in Speleology and strong motivation to be a caver.

Diving Division
          Mapala "WD"s Diving Division education's purpose is to make it's students to become a diver who's able to plan and carry out activities independently and safely dive in the same or more secure sites than where they were trained. Then be able to plan and implement activities diving to a depth of 30 meters independently and safely. Also be able to navigate under water in their dive activities and able to anticipate and cope with problems, the potential for accidents and diving accidents. Finally, for students to experience a fairly comprehensive about the ins and outs of diving world.
Mapala "WD"s Diving Division try out, Kubu-Karangasem, 2005. Photo: M. Farish (WD-516).

          Currently Mapala "WD"s Diving Division  has had at least 5 people diving instructors who held international agency license ie PADI (Professional Association of Diving Instructor). For those interested in the condition is not too difficult. Simply Mapala "WD"s Junior Members who have passed ATC and mentoring, having a conservative and prudent attitude, comfortable in the water, do not have claustrophobia and agoraphobia, passed scuba diving health test and have a passion of nature maritime.

Whitewater Rafting Division
          This division was formed in 1993. Started from a dozen members  Mapala "WD" who are interested in rowing-paddling was sent to the Rafting Education & Training trained by Sobek Rafting. In a very early age, in 1994 this division ventured to follow the National Rafting Championships on  Ayung River, competing with  legendary teams such Wanadri, Mapala UI and Aranyacala Trisakti. The result was not disappointing. Mapala "WD"s Rafting Division made it into the top 10.          
          In the field of environmental conservation, the division also did not want to miss. Has twice (1996, 2001) they entered the Badung River Cleaning Action , motivated Denpasar citizen to share the conservation of Badung River watershed which is contaminated by pollution.         
          Interested enter this division? Requirement is not too difficult, simply listed as Mapala "WD"s Junior Member, has the leadership skills, not afraid of water, likes adventure and meet other requirements to participate in Advanced Training Rafting specialization.
The first generation of  Mapala "WD"s rafting education & training in 1993. Photo by: Sobek Rafting.



Sabtu, 06 November 2010

'PREAMBULE' Alias 'MUKADIMAH'

          Sumpah! Sudah beberapa tahun belakangan ini saya memimpikan memiliki sebuah blog. Namun karena kesibukan kerja (ditambah lagi dengan acara kuliah malam belakangan ini), cita-cita mulia itu tinggallah cita-cita. Thanks to Pak Wayan Santika, ST, MM, dosen mata kuliah SIM (Sistem Informasi Manajemen), yang menugaskan setiap mahasiswanya membuat blog masing-masing, akhirnya terealisir jugalah blog saya ini. Mungkin sudah budaya kita orang Indonesia, segala sesuatu harus dipaksa, baru jalan.
          Blog ini diberi nama HANTU LAUT's Chronicles (setidaknya masih nama tentatif), menunggu ilham nama identitas lain yang lebih bagus kelak. Sementara ini, blog saya akan didominasi tulisan-tulisan tentang dunia bahari (terutama aktivitas bawah laut), dunia kepecintaalaman & petualangan, manajemen pemasaran (khususnya perilaku konsumen), manajemen umum, dunia kemahasiswaan, gaya hidup sehat, dll. Maunya sih, tetap dalam kerangka menuju NKRI yang lebih baik.
          Saran saya, jangan terlalu berharap banyak akan kontinuitas tulisan saya di blog ini. Saya orangnya mood-moodan dalam hal menulis. Juga, apabila ada yang tidak menyetujui bahkan tersinggung dengan content tulisan saya, ya maaf-maafin aje... Negara ini kan menghargai kebebasan berpendapat, saya akan usahakan, materi tulisan saya tidak sampai menyinggung perasaan orang lain walaupun itu hal yang sulit, karena mustahil untuk menyenangkan semua pihak. Dan saya akan berusaha keras untuk tidak terlibat dalam polemik berkepanjangan terhadap para pembaca yang tidak menyetujui pendapat saya. Karena suer, saya masih punya banyak pekerjaan lain yang lebih penting. Paling-paling saya hanya akan men-delete comment-comment ente-ente yang kedengarannya nyelekit...hehe...Gitu aja koq repot......Piss...:-D

           OK Brother & Sister, kita lanjutkan perbaikan perekonomian Indonesia yang lebih cepat dan lebih baik..! Towards a better Indonesia.

Love,


Farish
PADI Master Scuba Diver Trainer # 466562 

Jumat, 05 November 2010

Dunia Bawah Laut - Kenapa Kita Menyelam?* (bagian 1)

TUHAN, MANUSIA & ALAM
          Manusia merupakan makhluk Tuhan yang paling tinggi derajatnya karena dibekali oleh-Nya dengan akal budi. Dengan budayanya manusia menyebar ke seluruh penjuru dunia, mulai dengan peralatan batu sederhana untuk memotong daging hewan buruannya, hingga teknologi informasi tercanggih abad 20 yang konon kecepatannya selalu bertambah dua kali lipat setiap 18 bulannya. Salah satu senjata yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah rasa ingin tahu dan tak pernah puas pada satu hal saja.
           Selain rasa ingin tahu akan apa yang ada di puncak gunung, di tengah hutan belantara, di perut bumi, di tengah-tengah padang pasir, umat manusia juga tergelitik rasa ingin tahunya akan apa yang terkandung di dalam samudera luas tanpa batas. Semuanya tak lain adalah untuk lebih menghayati kebesaran Tuhan dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.

UNTUK APA SIH KITA MENYELAM?
           Berbicara mengenai alam dan kehidupan bawah laut, sebenarnya bagi banyak orang masih merupakan sesuatu yang penuh misteri. Petualangan pada umumnya adalah "hobby yang sunyi". Mendaki gunung, memanjat tebing, menelusuri gua, menembus pedalaman belantara, semuanya itu aktifitas yang sepi, jauh dari hiruk-pikuk peradaban manusia. Saat bertualang, jangan harap kita bisa menemukan mall atau bisa dugemWong ketemu puskesmas atau warung saja, kita sudah senang setengah mati! 
 
 Sponge di kawasan Toyapakeh, Nusa Penida. Foto: M. Farish

Nah, menyelam itu "lebih sunyi" daripada mendaki gunung, di mana saat mendaki gunung kita masih dapat berbicara dengan partner pendakian kita. Saat menyelam, yang kita temui hanyalah gerakan kehidupan lain di bawah air.  Gerakan pasir dan penghuni laut yang terombang-ambing arus bawah air, gerombolan ikan yang lalu-lalang di sekitar kita dan bermacam-macam bentuk makhluk laut lain dengan warna alam sekitarnya yang semakin dalam semakin kebiruan. Semuanya membisu dan bak di negeri antah berantah. Yang menandakan adanya peradaban manusia di situ hanyalah suara tarikan udara dari second stage regulator  kita dan hembusannya disertai gelembung-gelembung udara ke permukaan. Lha, terus untuk apa dong kita menyelam??
Coral Bommies di kawasan Crystal Bay, Nusa Penida. Foto: M. Farish.


           Mungkin banyak dari kita yang belum sadar, bahwa bumi kita ini terdiri dari lebih kurang 71% lautan dan 29% daratan. Kalau saja nenek moyang kita di zaman baheula telah mengetahui fakta ini, mungkin planet tempat kita hidup ini tidak dinamakannya "bumi/earth/terra" yang berarti tanah, melainkan "samudera/ocean/mare". Sesungguhnya lautan di bumi kita memang luar biasa. Seluruh lautan berisi kurang lebih  1.375 juta kubik air sedangkan banyaknya tanah di atas permukaan laut hanya 1/18 dari jumlah itu! (Bayangkan saja semua daratan di bumi - termasuk dataran rendah, dataran tinggi, bukit dan gunung dikeruk dan dijadikan satu, volumenya masih kalah jauh dibandingkan dengan air samudera seluruh dunia dikumpulkan jadi satu!!)  Kedalaman Palung Mariana di Pasifik Barat mencapai 11.035 meter di bawah permukaan laut, sehingga bila Gunung Everest (8.848 m dpl) dimasukkan ke dalamnya, maka puncak gunung tersebut masih berada lebih dari 2.000 meter di bawah permukaan laut!  Di dasar Samudera Pasifik terdapat barisan pegunungan yang membentang sepanjang 75.600 kilometer, lebih dari 30 kali panjang Pegunungan Bukit Barisan di Sumatera (dinamakan Pematang Tengah Samudera). Palung-palung yang terdapat di dasar lautpun ada yang berukuran luar biasa seperti Palung Tonga Kernmadec di Pasifik Barat yang panjangnya mencapai 2.575 kilometer dan dalamnya mencapai 10.630 meter. Palung tersebut cukup memuat 6 buah Grand Canyon di Arizona. Dan yang lebih menakjubkan lagi adalah hampir di semua kedalaman laut itu ditemukan bentuk kehidupan! Seperti di dasar Palung Mariana, kapal selam Bathyshcape Trieste pada penelitian tahun 1960 menemukan kehidupan berupa ikan berbentuk gepeng dan udang kecil, padahal di tempat itu tekanan airnya mencapai 1000 kali lipat tekanan udara di tempat kamu membaca artikel ini!!! (sumber: Amir Syarifudin, 1990) 
          Dari segudang fakta di atas, masak sih tidak tergerak di niat kita secuilpun untuk mencoba, mendatangi, melihat, mengeksplorasi sebagian kecil saja dari isi perut samudera, sebelum kita mati? Mumpung kita masih muda, masih sehat, dan satu hal lagi: Tuhan telah menganugerahkan kita tanah air yang "kuayaaa" (bukan kaya, tapi "kuayaaaa.....!") dengan semua potensi bawah lautnya. Jangan kita terus-terusan disalip warga asing mancanegara soal kekayaan laut dan bawah laut milik kita sendiri. Siapa lagi yang akan menjaga harta kekayaan kita dari incaran maling-maling kalau bukan kita sendiri? Tul gak Bro, & Sis?

           Manusia sendiri menyelam karena berbagai macam motivasi. Ada yang untuk mencari nafkah (seperti penyelam mutiara, pencari harta karun, pembuatan film, dll) , kepentingan militer (underwater demolition, reconnaisance, intelligence, combat frogman, ship salvage, dll),  Search & Rescue, penelitian ilmiah (marine biology, geology, underwater archaeology, dll), kepentingan komersial (pengelasan dan perawatan bagian bawah kapal, pengeboran minyak lepas pantai, dsb), serta Penyelaman Rekreasional. Perkembangan penyelaman scuba rekreasional telah berkembang begitu pesat selama dua dasawarsa terakhir. Sebagian besar diskusi kita ke depannya akan menitikberatkan pada aspek penyelaman scuba rekreasional.
Go Deep or Go Home, Young Men!! Foto oleh: Mala Hayati.


Bersambung..


*Artikel ini merupakan bagian dari diktat "Pengantar Scuba untuk Arkeologi Bawah Air" & diktat "Materi Selam Tingkat Dasar Mapala "WD" Unud", pernah dimuat di www.indosmarin.com